Jumat, 28 Maret 2014

Soal Materi Sekolah Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya

Tugas Guru
Ada tiga macam tugas Profesi Guru yang tidak dielakkan, yaitu tugas profesional, tugas sosial, dan tugas personal.

Tugas profesional
Tugas profesional guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih/membimbing, serta meneliti (riset). Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih/Membimbing berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan peserta didik. Dan meneliti untuk pengembangan kependidikan.
http://bimprippt19.blogspot.com
Tugas Sosial
Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan, yaitu  “pemanusiaan manusia”- dalam artian transformasi diri dan auto-identifikasi peserta didik sebagai manusia dewasa yang utuh. Karenanya di sekolah,  guru  harus dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua”  bagi peserta didik, dan di masyarakat sebagai figur panutan “digugu dan ditiru”.
Realitanya, menurut Uzer Usman (1997) masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa guru memiliki kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya. Karenanya pantaslah Bung Karno (dalam Sahertian, 1994) menyebut pentingnya guru dalam masa pembangunan adalah sebagai “pengabdi masyarakat”.
Tugas Personal
Tugas personal menyangkut pribadi dan kepribadian guru. Itulah sebabnya setiap guru perlu manatap dirinya dan memahami konsep dirinya. Wiggens dalam Sahertian (1994) mengemukakan tentang potret diri guru sebagai pendidik. Menurutnya, seorang guru harus mampu berkaca pada dirinya sendiri. Bila ia berkaca pada dirinya, ia akan melihat bukan satu pribadi, tetapi ada tiga pribadi, yaitu: (1) Saya dengan konsep diri saya (self concept); (2) Saya dengan ide diri saya (self idea); dan (3) Saya dengan realita diri saya (self reality).
Dengan refleksi diri, maka guru mengenal dirinya (autoidentifikasi) dan selanjutnya haruslah mengubah (tranformasi) dirinya, karena guru itu adalah “digugu dan ditiru” dan haruslah “ing ngarso asung tuladha”. Karena itu sebelum ia mengemban misinya haruslah “membangun jati dirinya”. Misalnya dalam penampilan, guru harus mampu menarik simpati para siswanya, karena bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya. Maka guru harus memahami hal ini dan berusaha mengubah dirinya menjadi simpatik. Demikian juga dalam hal kepribadian lainya.
Baca Juga Postingan : Beberapa Metode Pembelajaran yang Kreatif 
Peranan Guru
Tugas-tugas guru sebagaimana uraian tersebut di atas mewajibkan guru untuk melakukan berbagai peran yang menggambarkan pola tingkahlaku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya dengan siswa, sesama guru, dan staf yang lain. Peranan guru selalu berkembang seiring dengan paradigma pendidikan mutakhir yang sedang berkembang. Sebagai contoh perubahan paradigma pendidikan formal (jalur sekolah) bahwa “guru mengajar, siswa belajar” menjadi “guru membelajarkan peserta didik”, dan “siswa sebagai obyek didik” menjadi “subyek didik”. Hal tersebut jelas menuntut perubahan peranan guru sebagai seorang “pengajar” yang peranannya lebih menonjol pada transfer of knowledge dan transmisi kebudayaan.
Peran Guru sebagai Pendidik
Peran guru sebagai pendidik kian lama kian pudar, bahkan tinggal sebutan saja. Pada zaman kuno, predikat guru sebagai pendidik lebih kental dibanding predikat sebagai pengajar ataupun pelatih. Para siswa lebih diarahkan menjadi manusia yang taat pada Sang Maha Pencipta, sopan, tunduk pada hukum dan adat istiadat. Meskipun hal ini nampaknya kurang rasional, namun hasilnya lebih berkualitas dari segi pencapaian “manusia yang utuh”.
Paradigma pendidikan telah diubah sejak zaman kolonial, yakni lebih menonjolkan fungsi guru sebagai pengajar dari pada sebagai pendidik. Orientasi pendidikan lebih terfokus pada penciptaan tenaga kerja, dan bukan lagi pada soal kepribadian, etika ataupun sikap mental. Paradigma pendidikan “kolonial” tersebut secara tidak disadari dalam praktek pendidikan di sekolah sampai kini masih berlangsung, bahkan semakin dipupuk oleh adanya kebijakan pasar atau bursa tenaga kerja yang lebih mengutamakan formalitas nilai NEM atau IPK yang tertuang dalam ijazah. Akibatnya persepsi guru maupun masyarakat terhadap kadar profesionalisme guru terletak pada keberhasilan siswa meraih nilai/IPK tersebut dengan mengesampingkan aspek kepribadian dan sikap mentalnya. Hal ini bukanlah semata-mata “kesalahan” guru, namun lebih cenderung “terpaksa atau dipaksa”  oleh masyarakat itu sendiri.
Sebagai pendidik, seharusnya guru tidak mengabaikan begitu saja aspek kepribadian dan sikap mental peserta didik, tetapi membina dan mengembangkannya melalui pesan-pesan didik, keteladanan, pembiasaan tingkahlaku yang terpuji, dan sebagainya.
Peran Guru sebagai Pengajar dan Pelatih
Perubahan paradigma kependidikan, yakni dari konsep “guru mengajar dan murid belajar” menjadi “guru membelajarkan peserta didik” serta penganggapan siswa sebagai “obyek didik” menjadi “subyek didik”, menuntut peran guru sebagai pengajar/pelatih untuk mengurangi dominasi peran di dalam kelas dan lebih “menonjolkan”  peran-perannya  sebagai:
  1. Fasilitator, yaitu mengusahakan berbagai sumber belajar yang menunjang pencapaian  tujuan pembelajaran.
  2. Pembimbing, dalam artian mengusahakan kemudahan anak untuk belajar. Peran guru seperti inilah yang disebut membelajarkan peserta didik.
  3. Mediator, yaitu kreatif memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat.
  4. Learning manager (pengelola kelas), yaitu mengusahakan terciptanya kondisi belajar di kelas yang optimal.
  5. Motivator, yaitu lebih banyak memberikan dorongan semangat terhadap belajar siswa, sehingga siswa bergairah untuk belajar atas dorongan diri sendiri, dan mereka  menjadi sadar bahwa belajar adalah demi kepentingan masa depan dirinya.
  6. Evaluator, yaitu mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa serta proses pembelajaran oleh guru sendiri dalam rangka memperoleh balikan yang dapat digunakan untuk merevisi strategi pembelajaran yang lebih tepat, dari pada perannya sebagai:
  7. Transmitter, yaitu memindahkan nilai-nilai ataupun ilmu pengetahuan kepada siswa,
  8. Demonstrator, yaitu penampilan sebagai pengajar atau penceramah di depan kelas,
  9. Informator, yaitu sebagai juru penerang yang memberikan pesan-pesan kepada siswa,
  10.  Organisator, yaitu pengatur “lalu lintas” belajar siswa
  11.  Direktor (pengarah),  yaitu memberi petunjuk yang wajib dipatuhi siswa, dan
  12.  Inisiator yaitu pemrakarsa tunggal tentang kegiatan-kegiatan siswa.
Peran Guru dalam Administrasi
          Dalam hubungannya dengan kegiatan administrasi, Uzer Usman (1997) menyarankan seorang guru dapat berperan sebagai berikut:
  1. Pengambilan inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan. Hal ini berarti guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang direncanakan serta nilainya.
  2. Wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
  3. Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggungjawab untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.
  4. Penegak disiplin, guru harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.
  5. Pelaksana administrasi pendidikan. Disamping menjadi pengajar, gurupun harus turut bertanggungjawab akan kelancaran jalannya pendidikan, dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi di sekolahnya.
  6. Pemimpin generasi muda. Masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin dan pembimbing mereka dalam mempersiapkan diri untuk menjadi anggota masyarakat yang dewasa.
  7. Penerjemah kepada masyarakat. Artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah kependidikan.
Peran Guru dalam Bimbingan dan Konseling (BK)
Peranan guru dalam program layanan BK, disarankan oleh Djumhur dan Moh. Surya (1975) untuk berperan sebagai berikut:
  1. Guru sebagai tokoh kunci dalam bimbingan. Hal ini karena gurulah yang selalu berada dalam hubungan yang erat dengan siswa. Guru banyak mempunyai kesempatan untuk “mempelajari” siswanya, mengawasi tingkah laku dan kegiatannya, serta meneliti segi-segi kesehatannya terutama kesehatan mentalnya.
  2. Memahami siswa sebagai individu. Tugas pertama guru dalam program bimbingan ialah mengetahui atau mengenal siswa. Layanan bimbingan apapun tidak akan berhasil dengan memuaskan, apabila ia tidak atau kurang memahami individu siswanya, minat,  kepribadian, kemampuan, sifat-sifat, kebutuhan, masalah dan sebagainya.
  3. Melakukan perbaikan tingkah laku siswa. Dengan memahami individu siswa yang dilengkapi dengan mengenal sebab-sebab mengapa siswa bertingkah laku tertentu akan mempengaruhi interpretasi dan alternatif perbaikan yang akan dilakukan guru. Guru akan dapat mengubah tingkah laku siswa yang kurang baik dengan memuaskan apabila guru mengenal betul tentang hal ikhwal siswa tersebut.
  4. Mengadakan pertemuan “dari hati ke hati” dengan siswa. Pertemuan dapat dilakukan sebelum sekolah dimulai, pada waktu istirahat, atau setelah sekolah usai. Data yang berharga akan dapat terkumpul pada pertemuan itu, dan dapat pula diberikan bantuan yang memadai kepada siswa yang memerlukan.
  5. Mengadakan pertemuan dengan orang tua murid. Pelayanan bimbingan yang efektif seringkali dimungkinkan oleh pertemuan antara guru dengan orang tua murid. Pertemuan-pertemuan semacam itu membuat guru lebih memahami tentang diri siswa dan latar belakang keluarganya, sehingga ditemukan adanya saling pengertian dan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak, sehingga sangat membantu kelancaran bimbingan. Pertemuan dapat dilakukan di sekolah (orang tua murid diundang), dan dapat pula dilakukan dengan kunjungan ke rumah akan mempunyai nilai yang lebih besar.
Peran Guru secara Pribadi
Uzer Usman (1997) menjelaskan bahwa dilihat dari segi dirinya (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai:
  1. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya
  2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga, Sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga guru berperan sebagai orang tua dari siswa-siswanya.
  4. Pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku.
  5. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa-siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya.
Baca Juga Postingan : Beberapa Metode Pembelajaran yang Kreatif
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Soal Materi Sekolah Makna Profesional Guru dipandang dari Tiga Dimensi

Makna Profesional Guru dipandang dari Tiga Dimensi :
Dalam konsep barat tentang guru profesional, profesional tidak hanya diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimiliki seseorang. Misalnya, seorang guru dikatakan profesional bila guru itu memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal profesional mengandung makna yang lebih luas dari hanya berkualtas tinggi dalam hal teknis. Profesional mempunyai makna ahli (ekspert), tanggungjawab (responsibility), baik tanggungjawab intelektual maupun tanggungjawab moral dan memiliki rasa kesejawatan.

Makna profesional dapat dipandang tiga dimensi, yaitu :
1.Ahli/Ekspert
2.Rasa otonomi dan tanggungjawab
3.Rasa kesejawatan
1. Ahli (ekspert)
Yang pertama ialah ahli dalam bidang pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik. Seorang guru tidak saja menguasai isi pelajaran yang diajarkan, tetapi juga mampu dalam menanamkan konsep mengenai pengetahuan yang diajarkan.
Pemahaman konsep dapat dikuasai bila guru juga memahami pesikologi belajar. Pesikologi belajar membantu guru menguasai cara membimbing subjek belajar dalam memahami konsep tentang apa yang diajarkan. Selain itu guru juga harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik.
Ada pandangan yang mengatakan bahwa bila orang itu menguasai bidang studi maka dia akan mampu mengajarkan pengetahuan bidang itu kepada subjek didik. Pandangan lain mengatakan orang harus ahli dalam cara mengajar suatu bidang studi walaupun dia tidak ahli dalam bidang studi itu.
Pendapat ketiga beranggapan bahwa di samping harus ahli dalam cara mengajarkan dia juga harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik melalui bidang studi itu. Kalau guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik maka ia harus mengetahui prinsip-prinsip ilmu mendidik. Nampaknya banyak guru hanya ahli dalam bidang mengajar tetapi kurang memperhatikan dari segi-segi mendidik. Pemahaman seperti itu akan bermanfaat bagi guru sebagai pendidik.
Guru yang mampu mengajar saja dan hanya melihat pada tujuan-tujuan dan materi pelajaran belaka, mereka ini menerapkan apa yang oleh Paulo Freire disebut dengan Banking Concept. Konsep Bank menurut Paulo Freire ialah cara guru yang memandang bahwa mengajar itu seperti orang yang memasukkan uang kedalam bank. Uang di masukkan di bank dan akan mendapatkan bunga. Guru yang mengajar, murid belajar, guru menerangkan, murid mendengarkan, guru bertanya, murid menjawab. Konsep seperti itu tidak manusiawi (dehumanisasi) menurut Paulo Freire.
Padahal dalam proses belajar terjadi dialog yang ekstensial antara pendidik dan subjek didik sehingga subjek didik menemukan dirinya.
Konsep lain yang terlalu optimis terhadap pengaruh Eksternal seperti yang dikemukakan Skinner dengan apa yang disebut teknologi tingkah laku dalam bukunya Beyond Free Doom And Dignity bahwa manusia dapat direkayasa kita harus ingat bahwa manusia bukanlah sebuah manusia tetapi seorang manusia.
Pengetahuan yang diberikan adalah untuk membentuk pribadi yang utuh (holistik) kalau guru hanya ahli dan terampil saja dalam mentransfer materi pelajaran maka pada suatu saat peranan guru akan digantikan dengan media teknologi yang modern.
Guru bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik. Melalui pengajaran guru membentuk konsep berfikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalan dari inti kemanusiaan subjek didik.
Kiat mengajar seperti itulah yang diartikan ahli dalam memberti pengetahuan, mengembangkan pengetahuan dan menumbuhkan apresiasi, sehingga inti kemanusiaan subjek didik dapat berkembang. Disitulah inti dari seorang guru yang disebut ahli dalam mengajar dan mendidik.
Guru berfungsi pemberi inspirasi. Guru membuat agar peserta didik dapat berbuat. Guru menolong agar subjek didik dapat menolong dirinya sendiri. Guru menumbuhkan prakarsa, motivasi agar subjek didik dapat mengaktialisasi dirinya sendiri. Dalam kiatan itu ungkapan Laurence J. Peter akan mengajar setiap guru untuk menatap kembali fungsinya sebagai pengajar.
Menurut Laurence J.Pater:
Guru biasa :”Mengatakan”
Guru yang baik : “Menerapkan”
Guru yang Superior :”Mendemonstrasikan”.
Guru yang hebat :”Memberi Inspirasi”
Guru dibentuk bukan hanya untuk memiliki seperangkat keterampilan teknis saja, tetapi juga memiliki kiat mendidik serta sikap profesional. Kalau demikian praktek pengalaman calon guru harus lebih lama sekurang-kurangnya satu tahun agar mereka memperoleh peningkatan dan kelengkapan profesional yang mantap dalam dunia mengajar.
2. Memiliki Otonomi dan Rasa Tanggung jawab
Guru yang profesional disamping ahli dalam bidang mengajar dan mendidik, ia juga memiliki otonomi dan tanggungjawab. Yang dimaksud dengan Otonomi adalah suatu sikap yang profesional disebut Mandiri. Ia memiliki otonomi atau kemandirian yang dalam mengemukakan apa yang harus dikatakan berdasarkan keahliannya. Pada awal ia belum mempunyai kebebasan atau otonomi. Ia masih belajar sebagai magang. Melalui proses belajar dan perkembangan profesi maka pada suatu saat ia akan memiliki sikap mandiri.
Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan kesediaan untuk diminta pertanggungjawaban. Tanggungjawab yang mengandung makna multidimensional ini, berarti tanggungjawab terhadap diri sendiri, terhadap siswa, terhadap orang tua, lingkungan sekitar, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan akhirnya terhadap Tuhan yang maha Esa.
Dimensi-dimensi tanggung jawab ini harus dikembangkan melalui seluruh pengalaman belajar disekolah, termasuk semua bidang studi yang diajarkan. tanggung jawab punya aspek individual, sosial, etis dan relegius.
Guru pengajar menpunyai tanggungjawab intelektual. Artinya, ia secara nalar mampu mengembangkan konsep-konsep berfikir nalar dan problematis serta sistematis. Tanggungjawab juga punya aspek individu. Artinya, yang bertanggung jawab adalah orang secara pribadi. Ia berdiri sendiri sebagai pribadi yang utuh untuk mengambil keputusan dan mempertanggung jawabkan keputusan itu. Ia juga harus punya kesadaran untuk dimintai tanggung jawab.
Tanggung jawab juga mengandung makna sosial, orang yang bertanggung jawab harus mampu memberi pertanggungjawaban kepada orang lain. Tanggung jawab mengandung makna etis. Maksud nya tanggungjawab itu sendiri adalah perbuatan yang baik (etis).
Tanggungjawab juga mengandung makna religius. Seseorang bertanggung jawab, ia punya tanggungjawab terhadap Tuhan yang maha esa. Setiap guru wajib melihat tugas dan panggilannya dalam konteks tanggungjawab yang sifatnya multidimensional itu.
Baca juga postingan tentang Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya
3. Memiliki rasa kesejawatan
Salah satu tugas dari organisasi profesi adalah menciptakan rasa kesejawatan sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan. Etika profesi ini dikembangkan melalui organisasi profesi. Melalui organisasi profesi dicipkan rasa kesejawatan. Semangat korps (l’esprit de corps) dikembangkan agar harkat dan martabat guru yang dijunjung tinggi. Baik oleh korps guru sendiri maupun masyarakat pada umumnya.
Usaha meningkatkan citra guru dimasyarakat diperjuangkan melalui organisasi profesi, disamping ada rasa sejawat diantara para guru itu sendiri. Adalah ironi sejarah bila guru diharuskan memilkul tanggungjawab mendidik begitu berat, tetapi pada pihak lain penghargaan dan perlindungan terhadap jabatan tidak sesuai dengan jabatan yang dilimpahkan kepada mereka. Sebenarnya organisasi jabatan seperti PGRI atau ikatan guru bidang studi sejenis harus memperjuangkan nasibnya agar citra guru lebih dipandang sebagai profesi yang menarik.
Setelah mengetahui baik dari konsep barat maupun Islam kemampuan guru dapat dibagi ke dalam tiga bidang :
1. Kemampuan kognitif : artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar dan pengetahuan tentang cara penilaian hasil belajar siswa.
2. Kemampuan dalam bidang sikap : artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya siap menghargai pekerjaannya, toleransi terhadap sesama dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangannya.
3. Kemampuan prilaku (performance) : artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan dan berperilaku, yaitu keterampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran dan bergaul atau berkomunikasi dengan siswa.  
A.Kesimpulan
Dari banyaknya bahasan yang kami bahas maka dapat kami simpulkan beberapa point yang menjadi inti dari bahasan kami.
Definisi dari kata profesi ialah suatu bidang pekerjaan yang mana seseorang harus mempunyai suatu keahlian yang mumpuni dibidangnya, atau suatu pekerjaan yang membutuhkan kelanjutan ke jejang yang lebih tinggi dan tidah bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Dari kata profesi, kami akan mengembangkan tentang arti dari guru sebagi profesi adalah suatu pekerjaan pekerjaan keguruan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien.
Sedangkan guru yang profesional itu mensyaratkan orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya. Selain itu seorang guru juga harus memiliki kompetensi yang mendukung dengan profesi keguruannya.
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!
Baca juga postingan tentang Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya

Sabtu, 08 Maret 2014

Soal Materi Sekolah Rangkuman Materi Kimia Dasar

Salam, Jumpa lagi dengan admin Bimpri PPT, kali ini admin akan berbagi dan mengupload seberkas file yang diperuntukan bagi rekan-rekan Bimpri PPt yang sedang Kuliah dengan Mata kuliah Kimia dasar, berikut Rangkuman Materi Kimia Dasar yang dapat Anda Download di link berikut :
Download Materi Kimia Dasar

Download Rangkuman Kimia dasar
Demikian sahabat Bimpri PPT untuk postingan kali ini, untuk materi mata kuliah Kalkulus diferensial dapat rekan rekan klik di link berikut :
Kalkulus Diferensial
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Soal Materi Sekolah Rangkuman Materi Kalkulus diferensial

Salam, Jumpa lagi dengan admin Bimpri PPT, kali ini admin akan berbagi dan mengupload seberkas file yang diperuntukan bagi rekan-rekan Bimpri PPt yang sedang Kuliah dengan Mata kuliah Kalkulus Diferensial, berikut Rangkuman Materi Kalkulus Diferensial yang dapat Anda Download di link berikut :
Kalkulus Deferensial

Download Rangkuman Kalkulus diferensial
Demikian sahabat Bimpri PPT untuk postingan kali ini, untuk materi mata kuliah Kimia dasar dapat rekan rekan klik di link berikut :
Kimia Dasar
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Senin, 02 Desember 2013

Soal Materi Sekolah Sejarah Pendidikan di Indonesia

3.1 Pendidikan di Indonesia sebelum kemerdekaan
    Pendidikan di Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan dapat digolongkan ke dalam tiga periode, yaitu:Pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan, Pendidikan yang berlandaskan kepentingan penjajahan, dan Pendidikan dalam rangka perjuangan kemerdekaan
Pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan meliputi:
I.    Pendidikan Hindu-Budha.
Pendidikan pada zaman keemasan Hindu-Budha yang berlangsung antara abad ke-14 hingga abad ke-16 masehi. Pada periode awal berkembangnya agama Hindu-Budha di nusantara, sistem pendidikan sepenuhnya bermuatan keagamaan yang dilaksanakan di biara-biara atau pedepokan. Pada perkembangan selanjutnya, muatan pendidikan bukan hanya berupa ajaran keagamaan, melainkan ilmu pengetahuan yang meliputi sastra, bahasa, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara, dan hukum. Kerajaan-kerajaan hindu di tanah jawa banyak melahirkan empu dan pujangga besar yang melahirkan karya-karya seni yang bermutu tinggi. Pada masa, itu pendidikan mulai tingkat dasar hingga tingkat tinggi dikendalikan oleh para pemuka agama. Pendidikan bercorak Hindu-Budha semakin pudar dengan jatuhnya kerajaan Majapahit pada awal abad ke 16, dan pendidikan dengan corak Islam dalam kerajaan-kerajaan Islam datang menggantikannya.
II.    Pendidikan Islam
Pendidikan berlandaskan ajarna Islam dimulai sejak datangnya para saudagar asal Gujarat India ke Nusantara pada abad ke-13. Kehadiran mereka mula-mula terjalin melalui kontak teratur  dengan para pedagang asal Sumatra dan Jawa. Ajaran islam mula-mula berkembang di kawasan pesisir, sementara di pedalaman agama Hindu masih kuat. Didapati pendidikan agama Islam di masa prakolonial dalam bentuk pendidikan di surau atau langgar, pendidikan di pesantren, dan pendidikan di madrasah.
III.    Pendidikan Katolik dan Kristen-Protestan
Pendidikan Katolik berkembang mulai abad ke-16 melalui orang-orang Portugis yang menguasai malaka. Dalam usahanya mencari rempah-rempah untuk dijual di Eropa, mereka menyusuri pulau-pulau Ternate, Tidore, Ambon, dan Bacan. Dalam pelayarannya itu, mereka selau disertai misionaris Katolik-Roma yang berperan ganda sebagai penasihat spiritual dalam perjalanan yang jauh dan penyebar agama di tanah yang didatanginya. Kemudian Belanda menyebarkan agama Kristen-Protestan dan mengembangkan sistem pendidikannya sendiri yang bercorak Kristen-Protestan.
IV.    Pendidikan pada zaman VOC
Sebagaimana bangsa Portugis sebelumnya, kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia pada abad ke -16 mula-mula untuk tujuan dagang dengan mencari rempah-rempah dengan mendirikan VOC. Misi dagang tersebut kemusian diikkuti oleh misi penyebaran agama terutama dilakukan dengan mendirikan sekolah-sekolah yang dilengkapi asrama untuk para siswa. Di sana diajarkan agama Kristen-Protestan dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, dan sebagian menggunakan bahasa Melayu. Pada awal abad ke-16, VOC mendirikan sekolah di pulau-pulau Ambon, Banda, Lontar, dan Sangihe-Talaud. Pada periode berikutnya, didirikan pula sekolah-sekolah dengan jenis dan tujuan yang lebih beragam. Pendirian sekolah-sekolah tersebut terutama diarahkan untuk kepentingan mendukung misi VOC di Nusantara
V.    Pendidikan pada zaman kolonila Belanda
Pudarnya VOC pada akhir abad ke-18 menandai masa datangnya zaman kolonial Belanda. Sistem pendidikan diubah dengan menarik garis pemisah antara sekolah Eropa dan sekolah Bumiputera. Sekolah Eropa diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan anak-anak orang Eropa di Indonesia, sedangkan sekolah-sekolah bumiputera tingkatan dan prestisenya lebih rendah diperuntukkan bagi anak-anak bumiputra yang terpilih. Mulai akhir abad ke-19 dan hingga dasawarsa awal abad ke-20, lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia sangat beragam, meliputi sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah raja, sekolah petukangan, sekolah kejuruan, sekolah-sekolah khusus untuk perempuan Eropa dan pribumi, sekolah dokter, perguruan tinggi hukum, dan perguruan tinggi teknik. Untuk mengimbangi pendidikan Belanda, pada periode ini berdiri pula lembaga-lembaga pendidikan bercorak keagamaan dan kebangsaan oleh Muhamadiyah, taman siswa, INS kayutaman, Ma’arif dan perguruan Islam lainnya.
VI.    Pendidikan pada masa pendudukan Jepang
Meskipun singkat, berlangsung pada tahun 1942-1945, masa pendudukan Jepang memberikan corak yang berarti pada pendidikan di Indonesia. Tidak lama setelah berkuasa, Jepang segera menghapus sistem pendidikan warisan Belanda yang didasarkan atas penggolongan menurut bangsa dan status sosialnya. Tingkat sekolah terendah adalah Sekolah Rakyat(SR) , yang terbuka untuk semua golongnan masyarakat tanpa membedakan status sosial dan asal-usulnya. Kelanjutannya adalah Sekolah Menengah Pertama(SMP) selama tiga tahun, kemudian Sekolah Menengah Tinggi(SMT) selama tiga tahun. Sekolah kejuruan juga dikembangkan, yaitu Sekolah Pertukangan, Sekolah Menengah Teknik Menengah, Sekolah Pelayaran, dan Sekolah Pelayaran Tinggi. Sekolah Hukum dan MOSVIA yang didirikan oleh Belanda dihapuskan. Di tingkat pendidikan tinggi, pemerintah pendudukan Jepang didirikan Sekolah Tinggi Kedokteran (Ika Dai Gakko)di Jakarta dan Sekolah Tinggi Teknik di Bandung.
Perubahan lain yang sangat berarti  bagi Indonesia  di kemudian hari ialah bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar pertama di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintahan, dan bahasa pengantar kedua adalah bahasa Jepang. Sejak saat itu, bahasa Indonesia berkembang pesat sebagai bahasa pengantar dan bahasa komunikasi ilmiah. Tujuan pendidikan pada zaman Jepang diarahkan untuk mendukung pendudukan Jepang dengan menyediakan tenaga kerja kasar secara cuma-Cuma yang dikenal dengan romusha.

3.2 Pendidikan di Indonesia setelah kemerdekaan (1945-1969)
Pendidikan dan pengajaran sampai dengan tahun 1945 diselenggarakan oleh Kantor  Pengajaran yang terkenal dengan nama Jepang Bunkyo Kyoku dan merupakan bagian dari kantor yang menyelenggarakan urusan pamong praja yang disebut dengan Naimubu. Segere setelah diproklamasikannya kemerdekaan, Pemerintah Indonesia yang baru dibentuk menunjuk Ki Hajar Dewantara, sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran mulai 19 Agustus sampai dengan 14 November 1945, kemudian digantikan oleh Mr. T.G.S.G Mulia dari tanggal 14 November 1945 sampai dengan 12 Maret 1946. Tidak lama kemudian Mr. Dr. T.G.S.G Mulia digantikan oleh Mohamad Syafei dari 12 Maret 1946 sampai dengan 2 Oktober 1946. Karena masa jabatan yang umumnya amat singkat, pada dasarnya tidak banyak yang dapat diperbuat oleh para  menteri tersebut, apalagi Indonesia masih disibukkan dengan berbagai persoalan bangsa setelah diproklamasikannya kemerdekaan.
I.    Tujuan dan Kurikulum Pendidikan
Dalam kurun waktu 1945-1969, tujuan pendidikan nasional Indonesia mengalami lima kali perubahan, mengikuti perubahan dalam suasana kehidupan kebangsaan kita. Sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP&TK), Mr. Suwandi, tanggal 1 Maret 1946, tujuan pendidikan nasional pada masa awal kemerdekaan amat menanamkan penananman jiwa patriotisme. Hal ini dapat dipahami, karena pada saat itu bangsa Indonesia baru saja lepas dari penjajahan yang berlangsung ratusan tahun, dan masih ada gelagat bahwa Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Oleh karena itu, penanaman jiwa patriotisme melalui pendidikan dianggap merupakan jawaban guna mempertahankan negara  yang baru diproklamasikan.
Sejalan dengan perubahan suasana kehidupan kebangsaan, tujuan pendidikan nasional Indonesia pun mengalami perluasan; tidak lagi semata-mata menekankan jiwa patriotisme. Dalam Undang-Undang No. 4/1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah, Bab II pasal 3 dinyatakan, ”Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakup dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air”.
II.    Sistem Persekolahan
Sistem persekolahan yang berlaku di Indonesia pada awal kemerdekaan pada dasarnya melanjutkan apa yang telah dikembangkan pada zaman pendudukan Jepang. Sistem dimaksud meliputi tiga tingkatan yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Sistem persekolahan tersebut terus dipertahankan dan merupakan sistem oersekolahan yang berlaku pada zaman kemerdekaan, bahkan hingga tahun 1980-an. Hingga akhir tahun 1960-an, kalaupun terjadi perubahan, hal ini lebih pada bentuk kelembagaannya. Perkembangan lain yang terpenting dicatat pada era 1945-1969 ialah berrdirinya 42 Perguruan Tinggi Negeri berupa universitas, institut dan sekolah tinggi yang umumnya terletak di ibukota propinsi, sehingga kurun waktu tersebut dapat dikatakan sebagai “era pertumbuhan PTN”

3.4 Pendidikan di Indonesia Dewasa Ini
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan tantangan-tantangan baru, yang sebagiannya sering tidak dapat diramalkan sebelumnya. Dalam rangka menciptakan sistem pendidikan nasional yang mantap berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, serta mmapu menjawab tantangan masa kini dan masa depan, pendidikan nasional dewasa ini terus ditata dan dikembangkan dengan memberikan prioritas pada aspek-aspek yang dipandang stategis bagi bangsa. Prioritas tersebut adalah pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.
Pada tanggal 2 Mei 1994 waib belajar pendidikan dasar 9 tahun untuk tingkat SLTP dicanangkan. Sepuluh tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1984, Indonesia juga memulai wajib belajar 6 tahun untuk tingkat SD. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 6 menyatakan tentang hak warga negara untuk mengikuti pendidikan sekurang-kurangnya tamat pendidikan dasar. Kemudian PP Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar, Pasal 2 menyatakan bahwa pendidikan dasar merupakan  pendidikan 9 tahun, terdiri atas program pendidikan 6 tahun di SD dan program pendidikan 3 tahun di SLTP. Wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun mempunyai dua tujuan utama yang berkaitan satu sama lain yaitu: meningkatkan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi semua kelompok umur 7-15 tahun dan untuk meningkatkan mutu sumber daya Indonesia hingga mencapai SLTP.
Dengan wajib belajar, maka pendidikan minimal bangsa Indonesia yang semula 6 tahun ditingkatkan menjadi 9 tahun. Peningkatan lamanya wajib belajar dari 6 tahun menjadi 9 tahun memungkinkan peserta didik untuk lebih lama belajar di sekolah. Hal ini memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menempuh studi lanjutan dan hidup di masyarakat.
Sejak dimulai pada tahun 1994, program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun mencapai banyak kemajuan. Indikator-indikator kuantitatif yang dicatat menunjukkan bahwa angka partisipasi meningkat sejalan dengan semakin bertambahnya ruang belajar, jumlah guru, dan fasilitas belajar lainnya.

3.5 Permasalahan Pendidikan
Sistem pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai suprasistem. Pembangunan sisitem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak sinkron dengan pembangunan nasional. Kaitan yang erat antara bidang pendidikan sebagai sistem dengan sosial budaya sebagai suprasistem tersebut di mana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga permasalahan intern sistem pendidikan itu menjadi sangat kompleks. Artinya, suatu  permasalahan intern dalam sistem pendidikan selalu ada kaitannya dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat dilepaskan dari  kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat di sekitarnya, serta masih banyak lagi faktor-faktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil belajar tersebut. Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut banyak komponen, dan melibatkan banyak pihak.
Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia pendidikan di tanah air kita dewasa ini, yaitu: bagaimana semua warga negara dapat menikmati kesempatan pendidikan dan bagaimana pendidikan dapat membekali peserta didik dengan keterampilan untuk terjun ke dalam kancah kehidupan bermasyarakat.
I.    Masalah Pemerataan Pendidikan
    Dalam melaksanakan fungsinya sebagai wahana untuk memajukan bangsa dan kebudayaan nasional, pendidikan nasional diharapkan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan.
    Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa berhitung, membaca, dan menulis sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan.
    Oleh karena itu, dengan melihat tujuan yang terkandung di dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan.
Pemecahan Masalah Pemerataan Pendidikan
    Banyak pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah ditempuh melalui cara konvensional dan cara inovatif. Cara konvensional antara lain: membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar dan menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore) sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat/keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahkan anaknya.
    Cara inovatif antara lain:
a.    sistem Pamong(pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau Inpacts System(Instructional Management by Parent, Community and, Teacher). Sistem tersebut dirintis di Solo dan didiseminasikan ke beberapa propinsi
b.    SD kecil pada daerah terpencil
c.    Sistem Guru Kunjung
d.    SMP Terbuka (ISOSA- In School Out off School Approach)
e.    Kejar Paket A dan B
f.    Belajar Jarak Jauh

II.    Masalah Mutu Pendidikan
    Mutu pendidikan dipermasalahkan jika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran tersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja (performance test). Jadi mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Dengan kata lain apakah keluaran itu mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Meskipun disadari bahwa pada hakikatnya produk dengan ciri-ciri seperti itu tidak semata-mata hasil dari sistem pendidikan sendiri. Tetapi jika terhadap produk seperti itu sistem pendidika dianggap mempunyai andil yang cukup, yang tetap menjadi persoalan ialah bahwa pengukuran mutu produk tersebut tidak mudah. Berhubung dengan sulitnya pengukuran terhadap produk tersebut maka jika seorang berbicara tentang mutu pendidikan, umumnya hanya mengasosiasikan dengan hasil belajar yang dikenal sebagai hasil EBTA, Ebtanas, atau hasil Sipenmaru, UMPTN, karena ini mudah diukur. Hasil EBTA dan lain-lain tersebut itu dipandang sebagai gambaran tentang hasil pendidikan.
    Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil yang bermutu. Jika terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor hasil ujian yang baik maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Umumnya kondisi mutu pendidikan di seluruh tanah air menunjukkan bahwa di daerah pedesaan utamanya di daerah terpencil lebih rendah daripada di daerah perkotaan. Acuan usaha pemerataan mutu pendidikan bermaksud agar sistem pendidikan khususnya sistem persekolahan dengan segala jenis dan jenjangnya di seluruh pelosok tanah air (kota dan desa) mengalami peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.
Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
    Meskipun untuk tiap-tiap jenis dan jenjang pendidikan masing-masing memiliki kekhususan, namun pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada perbaikan kualitas komponen pendidikan serta mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya tersebut pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan dan pengalaman belajar peserta didik, yang akhirnya dapat meningkatkan hasil pendidikan. Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen.
III.    Masalah Efisiensi Pendidikan
    Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaanya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensinya berarti rendah. Masalah ini meliputi pengangkatan, penempatan, dan pengembangan tenaga.
    Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Masalah penempatan guru, khsusnya guru bidang studi, sering mengalami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Gejala tersebut membawa ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga guru, meskipun persediaan tenaga yang direncanakan secara makro telah mencukupi kebutuhan, namun mengalami masalah penempatan karena terbatasnya jumlah yang dapat diangkat dan sulitnya menjaring tenaga yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil, karena tidak ada insentif yang menarik. Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian dari para pelaksana di lapangan.
IV.    Masalah Relevasi Pendidikan
    Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan, yaitu masalah-masalah seperti digambarkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam. Baik dari segi jumlah maupun dari segi kualitas. Jika sistem pendidikan menghasilkan luaran yang dapat mengisi semua sektor pembangunan baik yang aktual maupun yang potensial dengan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi. Umumnya luaran yang diproduksi oleh sistem pendidikan jumlahnya secara kumulatif lebih besar daripada yang dibutuhkan di lapangan.

Permasalahan Aktual Pendidikan di Indonesia
    Masalah aktual ada yang mengenai konsep dan ada yang mengenai pelaksanaannya. Perlu dipahami bahwa tidak semua masalah aktual tersebut merupakan masalah baru. Bahkan ada yang sudah lama. Sudah sejak lama masalah aktual itu kita sepakati untuk mengatasinya, tetapi dari tahun ke tahun hasilnya tetap sama.
I.    Masalah Keutuhan Pencapaian sasaran
    Dalam pelaksanaannya pendidikan afektif belum ditangani semestinya. Kecenderungan mengarah kepada pengutamaan pengembangan aspek kognitif.
II.    Masalah Kurikulum
    Masalah kurikulum meliputi masalah konsep dan masalah pelaksanaannya. Apalagi kalau kita lihat di lapangan terdapat masalah pengembangan tenaga kependidikan yang biasanya terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru. Setiap pembaruan kurikulum menuntut adanya penyesuaian diri para pelaksana di lapangan. Padahal proses pembekalan untuk dapat siap melaksanakan kurikulum baru memakan waktu. Akibatnya terjadi kesenjangan antara saat dicanangkan berlakunya kurikulum dengan saat mulai dilaksanakan. Dalam masa transisi yang relatif lama ini proses pendidikan berlangsung kurang efisien dan efektif.
III.    Masalah Peranan Guru
    Konsep-konsep baru lahir sebagai cerminan humanisme yang memberikan arah baru pada pendidikan. Sejalan dengan itu perkembangan iptek yang pesat menyumbangkan cara-cara baru yang lebih mantap terhadap pemecahan masalah pendidikan. Dalam realisasinya dipandu oleh kurikulum yang selalu disempurnakan. Sejalan dengan itu maka guru sebagai suatu komponen sistem pendidikan juga harus berubah.
    Dahulu guru merupakan satu-satunya sumber belajar,  ia menjadi pusat bertanya. Tugas guru memberikan ilmu pengetahuan kepada murid. Cara demikian dipandang sudah memadai karena ilmu pengetahuan guru belum berkembang, cakupannya masih terbatas. Dewasa ini berkat perkembangan iptek yang demikian pesat bahkan merevolusi, bagi seorang guru tidak mungkin lagi menjadikan dirinya gudang ilmu dan oleh karena itu juga tidak satu-satunya sumber belajar bagi muridnya. Tugasnya bukan memberikan ilmu pengetahuan melainkan terutama menunjukkan jalan bagaimana cara memperoleh olmu pengetahuan, dan mengembangkan dorongan untuk berilmu. Dengan singkat dikatakan bahwa tugas guru adalah “membelajarkan pelajar”
IV.    Masalah Pendidikan Dasar 9 Tahun
    Dalam pelaksanaan pendidikan dasar 9 tahun, lebih-lebih pada tahap awal sudah pasti banyak hambatanya. Hambatan lain berasal dari sambutan masyarakat, utamanya dari orang tua/ kalangan yang kurang mampu. Mereka mungkin cenderung untuk tidak menyekolahkan anaknya karena harus membiayai anaknya lebih lama. Padahal dapat berharap banyak dari anaknya untuk segera memperoleh pekerjaan setelah tamat dari sekolah.



                                                             Daftar Pustaka
Abdulhak, Ishak., Supriadi, D., Wahyudin, Dinn. 2006. Pengantar Pendidikan. Universitas Terbuka, Jakarta.
Prof. Dr. Umar Tirtarahardja dan Drs. S. L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
 

Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Minggu, 20 Oktober 2013

Soal Materi Sekolah rangkuman Integral parsial dan soalnya

Soal-soal integral terkadang ditanyakan dalam bentuk yang tidak sederhana, salah satunya adalah bentuk yang terdiri dari perkalian beberapa fungsi. Untuk menyelesaikan soal tersebut, bisa menggunakan cara integral parsial.
Rumus integral parsial adalah
    \[ \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \]
dimana kita perlu memilih salah satu fungsi pada soal sebagai u dan fungsi sisanya sebagai dv.
Saat mengerjakan soal integral parsial, kita perlu memilih fungsi u yang tepat dengan syarat saat u diturunkan, hasil turunannya akan lebih sederhana daripada u sendiri. Sebagai pedoman umum, gunakan urutan dibawah ini sebagai prioritas permisalan :
  1. u = \ln x
  2. u = x^n
  3. u = e^{n x}
  1. \int x \sin 2x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Pertama pilih dulu fungsi mana yang ingin dijadikan u. Secara umum, pedomannya adalah memilih fungsi yang jika diturunkan hasilnya lebih sederhana. Untuk kasus ini, pilihlah u = x
        \begin{align*}          u &= x \\          \mathrm{d}u &= \mathrm{d}x        \end{align*}
    Karena memilih u = x berarti \mathrm{d}v = \sin 2x \: \mathrm{d}x
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \sin 2x \: \mathrm{d}x \\          \int \: \mathrm{d}v &= \int \sin 2x \: \mathrm{d}x \\          v &= - \frac{1}{2} \cos 2x       \end{align*}
    Lalu masukkan persamaan di atas ke rumus integral parsial
        \begin{align*}           \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\           \int x \sin 2x \: \mathrm{d}x &= x \cdot - \frac{1}{2} \cos 2x - \int - \frac{1}{2} \cos 2x \: \mathrm{d}x \\           &= - \frac{1}{2}x \cos 2x + \frac{1}{2} \int \cos 2x \: \mathrm{d}x \\           &= - \frac{1}{2}x \cos 2x + \frac{1}{2} \cdot \frac{1}{2} \sin 2x + C \\           &= - \frac{1}{2}x \cos 2x + \frac{1}{4} \sin 2x + C \\       \end{align*}
  2. \int x \sqrt{x+1} \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Ada dua kemungkinan untuk memisalkan u, yaitu u = x atau u = \sqrt{x+1}. Tetapi kita memilih u = x karena turunannya lebih sederhana dibanding u = \sqrt{x+1}.
    Jadi misalkan :
        \begin{align*}          u &= x \\          \mathrm{d}u &= \mathrm{d}x       \end{align*}
    Lalu
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \sqrt{x+1} \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int \sqrt{x+1} \: \mathrm{d}x \\           v &= \int (x+1)^{\frac{1}{2}} \: \mathrm{d}x \\             &= \frac{2}{3} (x+1)^{\frac{3}{2}}       \end{align*}
    Lakukan substitusi u dan v
        \begin{align*}           \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\           \int x \sqrt{x+1} \: \mathrm{d}x &= x \left[\frac{2}{3} (x+1)^{\frac{3}{2}} \right] - \int \frac{2}{3} (x+1)^{\frac{3}{2}} \: \mathrm{d}x \\            &= \frac{2}{3}x (x+1)^{\frac{3}{2}} - \frac{2}{3} \int (x+1)^{\frac{3}{2}} \: \mathrm{d}x \\            &= \frac{2}{3}x (x+1)^{\frac{3}{2}} - \frac{2}{3} \cdot \frac{2}{5} (x+1)^{\frac{5}{2}} + C \\            &= \frac{2}{3}x (x+1)^{\frac{3}{2}} - \frac{4}{15} (x+1)^{\frac{5}{2}} + C         \end{align*}
  3. \int x^2 \ln 4x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Kita dapat memilih u = x^2 atau u = \ln 4x, tetapi mengingat pedoman permisalan fungsi u yang dijelaskan di atas, maka kita memilih u = \ln 4x sehingga \mathrm{d}v = x^2 \: \mathrm{d}x
    Jadi lakukan permisalan :
        \begin{align*}          u &= \ln 4x \\        \mathrm{d}u &= \frac{1}{x} \: \mathrm{d}x        \end{align*}
    Lalu :
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= x^2 \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int x^2 \: \mathrm{d}x \\          v &= \frac{1}{3} x^3       \end{align*}
    Lakukan substitusi
        \begin{align*}         \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\         \int \ln 4x  \: x^2 \: \mathrm{d}x &= \ln 4x \cdot \frac{1}{3} x^3 - \int \frac{1}{3}x^3 \: \frac{1}{x} \: \mathrm{d}x \\         &= \frac{1}{3} x^3 \ln 4x - \frac{1}{3} \int x^2 \: \mathrm{d}x \\         &= \frac{1}{3} x^3 \ln 4x - \frac{1}{3} \cdot \frac{1}{3}x^3 + C \\         &= \frac{1}{3} x^3 \ln 4x - \frac{1}{9}x^3 + C \\       \end{align*}
  4. \int x^2 e^{3x} \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Melihat soal diatas, ada 2 fungsi yang bisa dijadikan u. Lalu dengan mempertimbangkan prioritas permisalan, kita memilih u = x^2 dan \mathrm{d}v = e^{3x} \: \mathrm{d}x
        \begin{align*}          u &= x^2 \\          \mathrm{d}u &= 2x \: \mathrm{d}x       \end{align*}
    Lalu
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= e^{3x} \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int e^{3x} \: \mathrm{d}x \\          v &= \frac{1}{3} e^{3x}       \end{align*}
    Lakukan substitusi integral parsial
        \begin{align*}          \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\          \int x^2 \: e^{3x} \: \mathrm{d}x &= x^2 \cdot \frac{1}{3} e^{3x} - \int \frac{1}{3} e^{3x} \cdot 2x \: \mathrm{d}x \\          &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{1}{3} \int 2x \cdot e^{3x} \: \mathrm{d}x \\       \end{align*}
    Bentuk \int 2x \cdot e^{3x} \: \mathrm{d}x menyebabkan kita harus sekali lagi melakukan metode integral parsial. Jadi lakukan permisalan :
        \begin{align*}           u &= 2x \\        \mathrm{d}u &= 2 \: \mathrm{d}x       \end{align*}
    Dan sama seperti sebelumnya
        \begin{align*}        \mathrm{d}v &= e^{3x} \: \mathrm{d}x \\        \int \mathrm{d}v &= \int e^{3x} \: \mathrm{d}x \\          v &= \frac{1}{3} e^{3x}       \end{align*}
    Lakukan substitusi sekali lagi melanjutkan yang tadi
        \begin{align*}         \int x^2 \: e^{3x} \: \mathrm{d}x &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{1}{3} \int 2x \cdot e^{3x} \: \mathrm{d}x \\         &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{1}{3} \left[2x \cdot \frac{1}{3} e^{3x} - \int \frac{1}{3} e^{3x} \cdot 2 \: \mathrm{d}x \right]\\         &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{1}{3} \left[\frac{2}{3}x e^{3x} - \frac{2}{3} \int  e^{3x} \: \mathrm{d}x \right] \\         &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{1}{3} \left[\frac{2}{3}x e^{3x} - \frac{2}{3} \cdot \frac{1}{3}  e^{3x} + C \right] \\         &= \frac{1}{3}x^2 e^{3x} - \frac{2}{9}x e^{3x} + \frac{2}{27} e^{3x} + C          \end{align*}
  5. \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Berdasarkan pedoman permisalan, lakukan permisalan u = e^x dan \mathrm{d}v = \sin 2x \: \mathrm{d}x
        \begin{align*}          u &= e^x \\          \mathrm{d}u &= e^x \: \mathrm{d}x          \end{align*}
    Lalu :
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \sin 2x \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int \sin 2x \: \mathrm{d}x  \\          v &= -\frac{1}{2} \cos 2x        \end{align*}
    Lakukan substitusi menggunakan integral parsial
        \begin{align*}         \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\         \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x &= e^x (-\frac{1}{2} \cos 2x) - \int -\frac{1}{2} \cos 2x \: e^x \: \mathrm{d}x \\         &= -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{2} \int \cos 2x \: e^x \: \mathrm{d}x \\         &= -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{2} \int e^x \cos 2x \: \mathrm{d}x \\       \end{align*}
    Lakukan proses integral parsial sekali lagi pada persamaan \int e^x \cos 2x \: \mathrm{d}x, kali ini dengan memilih u = e^x lagi, dengan \mathrm{d}v = \cos 2x \: \mathrm{d}x. Karena persamaan u sama, langsung saja ke persamaan dv.
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \cos 2x \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int \cos 2x \: \mathrm{d}x  \\          v &= \frac{1}{2} \sin 2x        \end{align*}
    Substitusi untuk \int e^x \cos 2x \: \mathrm{d}x
        \begin{align*}          \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\          \int e^x \cos 2x \: \mathrm{d}x &= e^x \cdot \frac{1}{2} \sin 2x - \int \frac{1}{2} \sin 2x \: e^x \: \mathrm{d}x \\          &= \frac{1}{2} e^x \sin 2x - \frac{1}{2} \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x + C\\       \end{align*}
    Tulis lagi persamaan semula, dan lakukan substitusi
        \begin{align*}         & \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{2} {\color{blue} \int e^x \cos 2x \: \mathrm{d}x} + C \\         & \int e^x \sin 2x \mathrm{d}x = -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{2} \left[{\color{blue} \frac{1}{2} e^x \sin 2x - \frac{1}{2} \int e^x \sin 2x \mathrm{d}x}\right] + C \\         & \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{4} e^x \sin 2x  -\frac{1}{4} \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x + C \\         & \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x + \frac{1}{4} \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{4} e^x \sin 2x  + C \\         &\frac{5}{4} \int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{4} e^x \sin 2x + C  \\         &\int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = \frac{4}{5} \left[ -\frac{1}{2} e^x \cos 2x + \frac{1}{4} e^x \sin 2x \right] + C \\         &\int e^x \sin 2x \: \mathrm{d}x = -\frac{2}{5} e^x \cos 2x + \frac{1}{5} e^x \sin 2x + C        \end{align*}
  6. \int \arcsin x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Lakukan permisalan u = \arcsin x dan \mathrm{d}v = \mathrm{d}x
        \begin{align*}          u &= \arcsin x \\         \mathrm{d}u &= \frac{1}{\sqrt{1-x^2}} \: \mathrm{d}x       \end{align*}
        \begin{align*}         \mathrm{d}v &= \mathrm{d}x \\         \int \mathrm{d}v &= \int \mathrm{d}x \\         v &= x       \end{align*}
    Substitusikan ke rumus integral parsial
        \begin{align*}         \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\         \int \arcsin x \: \mathrm{d}x &= \arcsin x \cdot x - \int x \: \frac{1}{\sqrt{1-x^2}} \: \mathrm{d}x \\         &= x \arcsin x - \int \frac{x}{\sqrt{1-x^2}} \: \mathrm{d}x \\       \end{align*}
    Untuk menyelesaikan bentuk diatas, kita perlu melakukan substitusi biasa. Kita misalkan t = 1-x^2.
        \begin{align*}          t &= 1-x^2 \\       \mathrm{d}t &= -2x \: \mathrm{d}x \\       x \: \mathrm{d}x &= - \frac{\mathrm{d}t}{2}        \end{align*}
    Lanjutkan substitusi.
        \begin{align*}          \int \arcsin x \: \mathrm{d}x &= x \arcsin x - \int \frac{x}{\sqrt{1-x^2}} \: \mathrm{d}x \\          &= x \arcsin x - \int - \frac{\mathrm{d}t}{2 \sqrt{t}} \\           &= x \arcsin x + \frac{1}{2} \int t^{-\frac{1}{2}} \: \mathrm{d}t \\          &= x \arcsin x + \frac{1}{2} \cdot 2 t^\frac{1}{2} + C \\          &= x \arcsin x + \sqrt{t} + C \\          &= x \arcsin x + \sqrt{1-x^2} + C        \end{align*}
  7. \int x \sin x \cos x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Sesuai dengan prioritas permisalan, maka kita pilih persamaan u = x dan \mathrm{d}v = \sin x \cos x \: \mathrm{d}x.
        \begin{align*}          u &= x \\          \mathrm{d}u &= \mathrm{d}x        \end{align*}
    Dan
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \sin x \cos x \: \mathrm{d}x \\          \int \mathrm{d}v &= \int \sin x \cos x \: \mathrm{d}x \\          v &= \int \sin x \cos x \: \mathrm{d}x \\          v &= \int \frac{1}{2} \cdot 2 \sin x \cos x \: \mathrm{d}x \\          v &= \int \frac{1}{2} \sin 2x \: \mathrm{d}x \\          v &= \frac{1}{2} \int \sin 2x \: \mathrm{d}x \\          v &= \frac{1}{2} \cdot -\frac{1}{2} \cos 2x \\          v &= -\frac{1}{4} \cos 2x       \end{align*}
    Masukkan ke dalam rumus integral parsial
        \begin{align*}          \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\          \int x \: \sin x \cos x \: \mathrm{d}x &= x \cdot -\frac{1}{4} \cos 2x - \int -\frac{1}{4} \cos 2x \: \mathrm{d}x \\          &= -\frac{1}{4}x \cos 2x + \frac{1}{4} \int \cos 2x \: \mathrm{d}x \\          &= -\frac{1}{4}x \cos 2x + \frac{1}{4} \cdot \frac{1}{2} \sin 2x + C \\          &= -\frac{1}{4}x \cos 2x + \frac{1}{8} \sin 2x + C        \end{align*}
  8. \int x^3 \sin x \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Misalkan u = x^3 sehingga \mathrm{d}u = 3x^2 \: \mathrm{d}x
    Lalu \mathrm{d}v = \sin x \: \mathrm{d}x sehingga v = -\cos x. Setelah itu masukkan ke rumus integral parsial.
        \begin{align*}          \int x^3 \sin x \: \mathrm{d}x &= x^3 \cdot -\cos x - \int -\cos x \: 3x^2 \: \mathrm{d}x \\          &= -x^3 \cos x + 3 \int x^2 \cos x \: \mathrm{d}x \\                 \end{align*}
    Misalkan lagi untuk melakukan integral parsial pada \int 3x^2 \cos x \: \mathrm{d}x. Kali ini pilihlah u = x^2 sehingga \mathrm{d}u = 2x \: \mathrm{d}x.
    Lalu \mathrm{d}v = \cos x \: \mathrm{d}x sehingga v = \sin x dan masukkan kembali ke rumus integral parsial
        \begin{align*}          \int x^3 \sin x \: \mathrm{d}x &= -x^3 \cos x + 3 \int x^2 \cos x \: \mathrm{d}x \\                     &= -x^3 \cos x + 3 \left[ x^2 \cdot \sin x - \int \sin x \: 2x \: \mathrm{d}x \right] \\           &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x - 3 \int 2x \sin x \: \mathrm{d}x \\           &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x - 6 \int x \sin x \: \mathrm{d}x \\       \end{align*}
    Karena masih ada bentuk integral parsial di penyelesaian, maka misalkan sekali lagi. Kali ini u = x sehingga \mathrm{d}u = \mathrm{d}x.
    Lalu \mathrm{d}v = \sin x \: \mathrm{d}x sehingga v = -\cos x. /p>
    Masukkan ke rumus integral parsial lagi
        \begin{align*}          \int x^3 \sin x \: \mathrm{d}x &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x - 6 \int x \sin x \: \mathrm{d}x \\          &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x - 6 \left[x \cdot -\cos x - \int -\cos x \: \mathrm{d}x \right] \\          &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x + 6x \cos x - 6 \int cos x \: \mathrm{d}x \\          &= -x^3 \cos x + 3 x^2 \sin x + 6x \cos x - 6 \sin x + C \\       \end{align*}
  9. \int \frac{\ln |x+2|}{(x+2)^2} \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
    Misalkan u = \ln |x+2| dan \mathrm{d}v = \frac{\mathrm{d}x}{(x+2)^2}. Cari nilai du terlebih dahulu.
        \begin{align*}          u &= \ln |x+2| \\         \mathrm{d}u &= \frac{1}{x+2} \: \mathrm{d}x       \end{align*}
    Lalu cari nilai v
        \begin{align*}          \mathrm{d}v &= \frac{\mathrm{d}x}{(x+2)^2} \\          \int \mathrm{d}v &= \int \frac{\mathrm{d}x}{(x+2)^2} \\          v &= \int (x+2)^{-2} \: \mathrm{d}x \\            &= -(x+2)^{-1} \\            &= -\frac{1}{x+2}        \end{align*}
    Masukkan ke rumus integral parsial
        \begin{align*}          \int u \: \mathrm{d}v &= u \: v - \int v \: \mathrm{d}u \\          \int \frac{\ln |x+2|}{(x+2)^2} \: \mathrm{d}x &= \ln |x+2| \cdot -\frac{1}{x+2} - \int -\frac{1}{x+2} \cdot \frac{1}{x+2} \: \mathrm{d}x \\          &= -\frac{\ln |x+2|}{x+2} + \int \frac{1}{(x+2)^2} \: \mathrm{d}x \\          &= -\frac{\ln |x+2|}{x+2} + \int (x+2)^{-2} \: \mathrm{d}x \\          &= -\frac{\ln |x+2|}{x+2} - (x+2)^{-1} + C \\          &= -\frac{\ln |x+2|}{x+2} - \frac{1}{x+2} + C \\       \end{align*}
  10. \int x \: ^3\!\log{x} \: \mathrm{d}x = \dots
    Tutup Jawaban
        \begin{align*}          \int x \: ^3\!\log{x} \: \mathrm{d}x &= \int x \: \frac{\ln x}{\ln 3} \: \mathrm{d}x \\          &= \frac{1}{\ln 3} \int x \: \ln x \: \mathrm{d}x \\       \end{align*}
    Misalkan u = \ln x sehingga \mathrm{d}u = \frac{1}{x} \mathrm{d}x dan \mathrm{d}v = x \: \mathrm{d}x sehingga v = \frac{1}{2} x^2.
    Lalu masukkan ke dalam rumus integral parsial
        \begin{align*}          \int x \: ^3\!\log{x} \: \mathrm{d}x &= \frac{1}{\ln 3} \int x \: \ln x \: \mathrm{d}x \\           &= \frac{1}{\ln 3} \left[\ln x \cdot \frac{1}{2} x^2 - \int \frac{1}{2} x^2 \: \frac{1}{x} \mathrm{d}x \right] \\          &= \frac{1}{\ln 3} \left[\frac{1}{2} x^2 \ln x - \frac{1}{2} \int x \: \mathrm{d}x \right] \\          &= \frac{1}{\ln 3} \left[\frac{1}{2} x^2 \ln x - \frac{1}{2} \cdot \frac{1}{2} x^2 + C \right] \\          &= \frac{1}{\ln 3} \left[\frac{1}{2} x^2 \ln x - \frac{1}{4} x^2 + C \right] \\          &= \frac{1}{2 \ln 3} x^2 \ln x - \frac{1}{4 \ln 3} x^2 + C       \end{align*}