Jumat, 28 Maret 2014

Soal Materi Sekolah Beberapa Metode Pembelajaran yang Kreatif

  1. Pengertian Model Pembelajaran   

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran :


  • Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik
  • Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
  • Langkah-langkah  mengajar yang duperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
  • Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

       Menurut Ryder (2003), model seperti mitos dan metaphor, dapat membantu kita memhami sesuatu. Apakah model itu diturunkan oleh seseorang atau merupakan hasil penelitian, setiap model menawarkan pemahaman tertentu secara lebih mudah. Model desain pembelajaran menawarkan struktur dan pemahaman tentang desain pembelajaran, menurut para pengembang pembelajaran memahami masalah, merinci masalah kedalam unit-unit yang lebih mudah diatasi dan menyelesaikan masalah pembelajaran. Nilai sebuah model pembelajaran ditentukan dalam koneteks yang digunakan. Model mengandung maksud tertentu bagi pengguna, menawarkan pernyelesaian dari beban pembelajaran dan menyajikan fokus dan arahan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Model ini dimaksudkan untuk memudahkan para guru melaksanakan pembelajaran. Pola pikir yang digunakan adalah perumusan tujuan, penyusuanan kegiatan belajar, dan penyusuan kegiatan penilaian untuk mencapai tujuan serta memahami keefektifan kegiatan belajar yang telah dilaksanakan (Ella Yulaelawati: 2004). Model pembelajaran merupakan salah satu cara yang dipergunakan dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat belangsungnya pembelajaran, oleh karena itu peranan model pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Suatu model mengajar dapat diartiakan sebagai suatu rencana atau pola yan digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar dikelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya (Dahlan, 2000). Secara umum istilah model pembelajaran diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan. Dalam pengertian lain “Model” juga diartikan sebagai barang/benda yang sesungguhnya. Seperti “globe” adalah model dari bumi tempat kita hidup (Winataputra, 2002).

       Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konsep sebagai pedoman dalam mengatur materi pelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.Istilah model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau metode tertentu yaitu: rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya, tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Ismail, 2003). Menurut Joice dan Weil dalam Winataputra (2002), model mengajar memiliki beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut adalah sintaks, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung, dampak intruktusional, dan pengiring. Sintaks merupakan tahapan-tahapan atau urutan kegiatan dari model itu, sedangkan sistem sosial merupakan situasi, norma, suasana yang berlaku dalam model tersebut. Prinsip reaksi adalah suatu pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru melihat dan memperlakukan siswa, termasuk bagaimana memberikan respon terhadap siswa. Sistem pendukung merupakan semua sarana dan alat yang dibutuhkan untuk melaksanakan model tersebut. Dampak instruktusional merupakan hasil belajar yang dicapai langsung dengan cara mengarahkan siswa pada tujuan yang hendak diharapkan, dan hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu proses belajar mengajar sebagai akibat tanpa pengarahan langsung dari guru disebut dengan pengiring.

2.    Jenis – jenis model pembelajaran
a.    Model Pembelajaran Model Jigsaw (Tim ahli)
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran :
1)     Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok beranggotakan 4-5 anak.
2)    Tiap anak dalam tim diberi bagian materi yang berbeda sesuai dengan yang ditugaskan
3)    Anggota dari tim yamg berbeda yang telah mempelajari bagian atau sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) dan mendiskusikan sub bab mereka.
4)    Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok masing-masing dan tiap anggota lainnya mendengarkan penjelasan dari tim ahli.
5)     Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6)    Guru memberi evaluasi
7)     Penutup

b.    Model Pembelajaran Think Pair and Share
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
2)    Siswa secara perorangan diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru.
3)    Siswa diminta berpasangan dengan teman sebangku (1 kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing.
4)    Masing-masing pasangan membentuk kelompok baru (tiap kelompok 4 siswa)
5)     Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.
6)    Berawal dari kegiatan tersebut mengarah pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan siswa.
7)     Guru memberi kesimpulan.
8)    Penutup

c.    Model Pembelajaran Student Teams Achievments Divisions (STAD)
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Membentuk kelompok yang anggotanya 4 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi)
2)    Guru memberikan penjelasan tentang suatu materi
3)    Guru memberikan tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok.
4)    Anggota kelompok yang mengerti tentang materi menjelaskan materi kepada anggota yang lain dalam kelompok itu sendiri sampai anggota yang lain mengerti.
5)     Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak ada boleh bekerja sama
6)    Guru memberi evaluasi
7)     Kesimpulan

d.   Model Pembelajaran Number Heads Togheter (NHT)
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
1)     Siswa dibagi dalam kelompok, tiap siswa dalam kelompok mendapat nomor
2)    Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
3)    Kelompok mendiskusikan jawabannya yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya
4)    Guru memenggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil mempresentasikan hasil kerjasama mereka.
5)     Kelompok yang lain memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi siswa yang maju.
6)    Guru menunjuk nomor yang lain
7)     Kesimpulan

e.    Model Pembelajaran Role Playing
Langkah-langkah kegiatan Pembelajaran:
1)     Guru menyusun atau menyiapkan skenario pembelajaran yang akan ditampilkan
2)    Guru menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario 2 hari sebelum KBM
3)    Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
4)    Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang akan dicapai
5)     Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
6)    Masing-masing siswa duduk di kelompoknya dan memperhatikan skenario yang sedang ditampilkan
7)     Setelah selesai, masing-masing siswa diberikan selembar kertas untuk membahas apa yang sudah ditampilkan
8)    Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulan
9)    guru memberikan kesimpulan secara umum
10)evaluasi
11)  Penutup

f.      Model Pembelajaran Picture and Picture
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
2)    Guru menyajikan materi sebagai pengantar
3)    Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi
4)    Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian untuk memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5)     Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6)    Dari alasan/urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7)     Kesimpulan

g.    Model Pembelajaran Examples non Examples
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2)    Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD
3)    Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk menganalisis gambar
4)    Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusin dari analisa ganbar tersebut dicatat pada kertas
5)     Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6)    Berdasarkan hasil diskusi, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuasn yang hendak dicapai
7)     Kesimpulan

h.   Model Pembelajaran Artikulasi
Langkah-lanmgkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan tujusan pembelajaran yang ingin dicapai
2)    Guru menyajikan materi
3)    Untuk mengetahui daya serap siswa, guru membentuk kelompok berpasangan 2 orang
4)    Salah satu dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan kecil kemudian berganti peran. Begitu juga dengan kelompok yang lainnya
5)     Seluruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya.
6)    Guru mengulangi penjelasannya mengenai materi yang belum dimengerti siswa
7)     Kesimpulan/penutup

i.       Model Pembelajaran Mind Mapping,
       Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif  jawaban. Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2)    Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa . Sebaiknya permasalahan yang diutarakan guru memiliki alternatif jawaban
3)    Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
4)    Tiap kelompok mencatat alternatif jawaban hasil diskusi
5)     Tiap kelompok membacakan hasi diskusinya dan guru memcatat dipapan dengan mengelompokkan sesuai dengan kebutuhan guru
6)    Dari data-data di papan siswa diminta menarik suatu kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru.

j.      Model Pembelajaran Make a Match (Mencari Pasangan)
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaiknya satun bagian kartu berisi soal dan bagian lainnya berisi jawaban
2)    Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3)    Tiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya
4)    Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya
5)     Setiap siswa yang dapat memcocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6)    Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7)     Demikian seterusnya
8)    Kesimpulan/penutup

k.    Model Pembelajaran Group Investigation
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
2)    Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3)    Guru memanggil ketua dari masing-masing kelompok dan membagikan materi yang berbeda tiap kelompok
4)    Masing-masing kelompok membahas materi yang diberikan guru secara kooperatifberisi penemuan
5)     Setelah diskusi selesai, lewat juru bicara, tiap-tiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya
6)    Guru memberikan penjelasan singkat serta menarik kesimpulan
7)     Evaluasi
8)    Penutup

l.      Model Pembelajaran Bertukar Pasangan
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru bisa menunjukkan pasangan atau siswa menunjuk pasangannya sendiri)
2)    Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya
3)    Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangnan yang lain
4)    Kedua pasangan tersebut saling bertukar pasangan, masing-masing pasangan baru saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka
5)     Temuan baru yang didapat darim pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan yang semula.

m. Model Pembelajaran Snowball Throwing
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
2)    Guru membentuk kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3)    Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada anggota kelompoknya
4)    Masing-masing siswa siberikan selembar kertas untuk menuliskan satu pertanyaan yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan olehn ketua kelompok
5)     Kemudian kertas tersebut bibuat seperti bola dan dilemparkan dari siswa sari ke siswa lain selama 15 menit.
6)    Setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan, mereka diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan yangn ada paa kertas tersebut secara bergantian
7)     Evaluasi
8)    Penutup

n.   Model Pembelajaran Inside-outside Circle
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
2)    Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama, menghadap ke dalam
3)    Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan
4)    Siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat sedangkan siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam
5)     Kemudian giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang berbagi informasi.

o.    Model Pembelajaran Course Review Horary
Langakah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2)    Guru mendemonstrasikan/menyampaikan materi
3)    Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya
4)    Untuk meguji pemahaman, siswa diminta untuk membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi dengan angka sesuai ddengan selera masing-masing siswa
5)     Guru membaca soal secara acak dan siswa menilis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung mendiskusikannya,kalau jawaban siswa benar diisi tanda (Ö ) dan jika jawaban siswa salah maka diisi tanda (X)
6)    Siswa yang mendapay tanda Ö vertikal atau horizontal, atau diagonal harus berteriak ”hore” atau yel-yel yang lainnya
7)     Nilai siswa dihitung dari jumlah jawaban yang benar
8)    Penutup

p.   Model Pembelajaran Cooperative Integreted Reading and Compositions (CIRC)
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen
2)    Guru memberikan wacana atau kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3)    Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas
4)    Tiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok
5)     Guru bersama siswa membuat kesimpulan
6)    Penutup

q.    Model Pembelajaran Student Facilitator and Explaining
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2)    Guru mendemonstrasikan atau menyajikan materi
3)    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menjelaskan pada siswa lain baik melalui bagan/peta konsep atau melalui media yang lainnya
4)    Guru menyimpulkan pendapat siswa
5)     Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
6)    Penutup

r.     Model Pembelajaran Talking Stik
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menyiapkan sebuah tongkat
2)    Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca atau mempelajari materi pada buku panduan
3)    Kemudian siswa diminta untuk menutup buku panduan
4)    Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan pada siswa yang memegang tongkat dan siswa tersebut harus menjawabnya. Demikian seterusnya sampai semua siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
5)     Guru memberikan kesimpulan
6)    Evaluasi
7)     Penutup

s.     Model Pembelajaran Multi Level
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran:
1)     Menentukan siswa yang berada pada level 1,2,dan 3. Misalnya dari nilai ulangan harian, atau melalui pre test
2)    Membentuk kelompok, banyaknya kelompok sesuai dengan banyaknya siswa pada level 1
3)    Guru memberikan materi secara keseluruhan dan memberikan soal (LKS) untuk dikerjakan secara individu
4)    Sementara siswa yang lain mengerjakan soal, guru mengumpulkan siswa level 1 untuk diberikan materi secara langsung dengan membahas soal yang telah diberikan sebelumnya
5)     Siswa level 1 kembali pada kelompoknya dan memberikan pembelajaran pada siswa level 2
6)    Dengan dibantu siswa level 1, siswa level 2 memberikan pembelajaran pada siswa level 3 dengan membahas soal yang sama
7)     Guru mementau dan mengevaluasi proses kegiatan pembelajaran dan memberikan bantuan secukupnya pada masing-masing kelompok
8)    Guru memberikan penghargaan bagi kelompok atau individu yang berhasil

t.      Model Pembelajaran Pesan berantai
Langkah-langkah npembelajaran:
1)     Guru memberikan informasi tentang materi secara umum
2)    Membentuk kelompok yang beranggotakan 5 orang
3)    Setiap anggota kelompok diberikan nomor 1-5
4)    Guru memberikan pesan materi kepada anggota nomor 1 secara berbisik untuk disampaikan kepada nomor 2,3,4 dan 5
5)     Anggota nomor 5 menyampaikan pesan tersebut pada guru
6)    Kelompok yang berhasil menyampaikan pesan dengan benar diberi point
7)     Pembahasan materi oleh guru bersama siswa.
8)    Kesimpulan

u.   Model Pembelajaran Debat
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru membagi kelas menjadi 2 kelompok yang satu pro dan yang lain kontra
2)    Guru membagi tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3)    Setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok yang pro untuk berbicara dan ditanggapi oleh kelompok yang kontra. Demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mengemukakan pendapatnya
4)    Sementara siswa menyampaikan gagasan, guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicara di papan tulis.
5)     Guru menambahkann konsep/ide yang belum terungkap
6)    Dari data-data yang ada di papan, guru mengajak siswa membuat kesimpulan yang mengacu pada topik yang dibahas.

v.    Model Pembelajaran Problem Based Introductions (PBI)
Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktifitas pemecahan masalah yang dipilih
2)    Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dan lain-lain)
3)    Guru mendorongn siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis dan pemecahan masalah
4)    Guru membantu siswa dalam merencanakan, menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5)     Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

w.  Model Pembelajaran Exsplicit Instruction
Yaitu pengajaran langsung khusus yang dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah pembelajaran:
1)     Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2)    Mendemonstrasikan pengetahian dan keteram pilan
3)    Membimbing pelatihan
4)    Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Soal Materi Sekolah Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya

Tugas Guru
Ada tiga macam tugas Profesi Guru yang tidak dielakkan, yaitu tugas profesional, tugas sosial, dan tugas personal.

Tugas profesional
Tugas profesional guru meliputi mendidik, mengajar dan melatih/membimbing, serta meneliti (riset). Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih/Membimbing berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan peserta didik. Dan meneliti untuk pengembangan kependidikan.
http://bimprippt19.blogspot.com
Tugas Sosial
Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan, yaitu  “pemanusiaan manusia”- dalam artian transformasi diri dan auto-identifikasi peserta didik sebagai manusia dewasa yang utuh. Karenanya di sekolah,  guru  harus dapat menjadikan dirinya sebagai “orang tua kedua”  bagi peserta didik, dan di masyarakat sebagai figur panutan “digugu dan ditiru”.
Realitanya, menurut Uzer Usman (1997) masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa guru memiliki kewajiban untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menuju pembentukan manusia seutuhnya. Karenanya pantaslah Bung Karno (dalam Sahertian, 1994) menyebut pentingnya guru dalam masa pembangunan adalah sebagai “pengabdi masyarakat”.
Tugas Personal
Tugas personal menyangkut pribadi dan kepribadian guru. Itulah sebabnya setiap guru perlu manatap dirinya dan memahami konsep dirinya. Wiggens dalam Sahertian (1994) mengemukakan tentang potret diri guru sebagai pendidik. Menurutnya, seorang guru harus mampu berkaca pada dirinya sendiri. Bila ia berkaca pada dirinya, ia akan melihat bukan satu pribadi, tetapi ada tiga pribadi, yaitu: (1) Saya dengan konsep diri saya (self concept); (2) Saya dengan ide diri saya (self idea); dan (3) Saya dengan realita diri saya (self reality).
Dengan refleksi diri, maka guru mengenal dirinya (autoidentifikasi) dan selanjutnya haruslah mengubah (tranformasi) dirinya, karena guru itu adalah “digugu dan ditiru” dan haruslah “ing ngarso asung tuladha”. Karena itu sebelum ia mengemban misinya haruslah “membangun jati dirinya”. Misalnya dalam penampilan, guru harus mampu menarik simpati para siswanya, karena bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya. Maka guru harus memahami hal ini dan berusaha mengubah dirinya menjadi simpatik. Demikian juga dalam hal kepribadian lainya.
Baca Juga Postingan : Beberapa Metode Pembelajaran yang Kreatif 
Peranan Guru
Tugas-tugas guru sebagaimana uraian tersebut di atas mewajibkan guru untuk melakukan berbagai peran yang menggambarkan pola tingkahlaku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya dengan siswa, sesama guru, dan staf yang lain. Peranan guru selalu berkembang seiring dengan paradigma pendidikan mutakhir yang sedang berkembang. Sebagai contoh perubahan paradigma pendidikan formal (jalur sekolah) bahwa “guru mengajar, siswa belajar” menjadi “guru membelajarkan peserta didik”, dan “siswa sebagai obyek didik” menjadi “subyek didik”. Hal tersebut jelas menuntut perubahan peranan guru sebagai seorang “pengajar” yang peranannya lebih menonjol pada transfer of knowledge dan transmisi kebudayaan.
Peran Guru sebagai Pendidik
Peran guru sebagai pendidik kian lama kian pudar, bahkan tinggal sebutan saja. Pada zaman kuno, predikat guru sebagai pendidik lebih kental dibanding predikat sebagai pengajar ataupun pelatih. Para siswa lebih diarahkan menjadi manusia yang taat pada Sang Maha Pencipta, sopan, tunduk pada hukum dan adat istiadat. Meskipun hal ini nampaknya kurang rasional, namun hasilnya lebih berkualitas dari segi pencapaian “manusia yang utuh”.
Paradigma pendidikan telah diubah sejak zaman kolonial, yakni lebih menonjolkan fungsi guru sebagai pengajar dari pada sebagai pendidik. Orientasi pendidikan lebih terfokus pada penciptaan tenaga kerja, dan bukan lagi pada soal kepribadian, etika ataupun sikap mental. Paradigma pendidikan “kolonial” tersebut secara tidak disadari dalam praktek pendidikan di sekolah sampai kini masih berlangsung, bahkan semakin dipupuk oleh adanya kebijakan pasar atau bursa tenaga kerja yang lebih mengutamakan formalitas nilai NEM atau IPK yang tertuang dalam ijazah. Akibatnya persepsi guru maupun masyarakat terhadap kadar profesionalisme guru terletak pada keberhasilan siswa meraih nilai/IPK tersebut dengan mengesampingkan aspek kepribadian dan sikap mentalnya. Hal ini bukanlah semata-mata “kesalahan” guru, namun lebih cenderung “terpaksa atau dipaksa”  oleh masyarakat itu sendiri.
Sebagai pendidik, seharusnya guru tidak mengabaikan begitu saja aspek kepribadian dan sikap mental peserta didik, tetapi membina dan mengembangkannya melalui pesan-pesan didik, keteladanan, pembiasaan tingkahlaku yang terpuji, dan sebagainya.
Peran Guru sebagai Pengajar dan Pelatih
Perubahan paradigma kependidikan, yakni dari konsep “guru mengajar dan murid belajar” menjadi “guru membelajarkan peserta didik” serta penganggapan siswa sebagai “obyek didik” menjadi “subyek didik”, menuntut peran guru sebagai pengajar/pelatih untuk mengurangi dominasi peran di dalam kelas dan lebih “menonjolkan”  peran-perannya  sebagai:
  1. Fasilitator, yaitu mengusahakan berbagai sumber belajar yang menunjang pencapaian  tujuan pembelajaran.
  2. Pembimbing, dalam artian mengusahakan kemudahan anak untuk belajar. Peran guru seperti inilah yang disebut membelajarkan peserta didik.
  3. Mediator, yaitu kreatif memilih dan menggunakan media pembelajaran yang tepat.
  4. Learning manager (pengelola kelas), yaitu mengusahakan terciptanya kondisi belajar di kelas yang optimal.
  5. Motivator, yaitu lebih banyak memberikan dorongan semangat terhadap belajar siswa, sehingga siswa bergairah untuk belajar atas dorongan diri sendiri, dan mereka  menjadi sadar bahwa belajar adalah demi kepentingan masa depan dirinya.
  6. Evaluator, yaitu mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa serta proses pembelajaran oleh guru sendiri dalam rangka memperoleh balikan yang dapat digunakan untuk merevisi strategi pembelajaran yang lebih tepat, dari pada perannya sebagai:
  7. Transmitter, yaitu memindahkan nilai-nilai ataupun ilmu pengetahuan kepada siswa,
  8. Demonstrator, yaitu penampilan sebagai pengajar atau penceramah di depan kelas,
  9. Informator, yaitu sebagai juru penerang yang memberikan pesan-pesan kepada siswa,
  10.  Organisator, yaitu pengatur “lalu lintas” belajar siswa
  11.  Direktor (pengarah),  yaitu memberi petunjuk yang wajib dipatuhi siswa, dan
  12.  Inisiator yaitu pemrakarsa tunggal tentang kegiatan-kegiatan siswa.
Peran Guru dalam Administrasi
          Dalam hubungannya dengan kegiatan administrasi, Uzer Usman (1997) menyarankan seorang guru dapat berperan sebagai berikut:
  1. Pengambilan inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan. Hal ini berarti guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang direncanakan serta nilainya.
  2. Wakil masyarakat, yang berarti dalam lingkungan sekolah guru menjadi anggota masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.
  3. Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggungjawab untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan.
  4. Penegak disiplin, guru harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.
  5. Pelaksana administrasi pendidikan. Disamping menjadi pengajar, gurupun harus turut bertanggungjawab akan kelancaran jalannya pendidikan, dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi di sekolahnya.
  6. Pemimpin generasi muda. Masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin dan pembimbing mereka dalam mempersiapkan diri untuk menjadi anggota masyarakat yang dewasa.
  7. Penerjemah kepada masyarakat. Artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah-masalah kependidikan.
Peran Guru dalam Bimbingan dan Konseling (BK)
Peranan guru dalam program layanan BK, disarankan oleh Djumhur dan Moh. Surya (1975) untuk berperan sebagai berikut:
  1. Guru sebagai tokoh kunci dalam bimbingan. Hal ini karena gurulah yang selalu berada dalam hubungan yang erat dengan siswa. Guru banyak mempunyai kesempatan untuk “mempelajari” siswanya, mengawasi tingkah laku dan kegiatannya, serta meneliti segi-segi kesehatannya terutama kesehatan mentalnya.
  2. Memahami siswa sebagai individu. Tugas pertama guru dalam program bimbingan ialah mengetahui atau mengenal siswa. Layanan bimbingan apapun tidak akan berhasil dengan memuaskan, apabila ia tidak atau kurang memahami individu siswanya, minat,  kepribadian, kemampuan, sifat-sifat, kebutuhan, masalah dan sebagainya.
  3. Melakukan perbaikan tingkah laku siswa. Dengan memahami individu siswa yang dilengkapi dengan mengenal sebab-sebab mengapa siswa bertingkah laku tertentu akan mempengaruhi interpretasi dan alternatif perbaikan yang akan dilakukan guru. Guru akan dapat mengubah tingkah laku siswa yang kurang baik dengan memuaskan apabila guru mengenal betul tentang hal ikhwal siswa tersebut.
  4. Mengadakan pertemuan “dari hati ke hati” dengan siswa. Pertemuan dapat dilakukan sebelum sekolah dimulai, pada waktu istirahat, atau setelah sekolah usai. Data yang berharga akan dapat terkumpul pada pertemuan itu, dan dapat pula diberikan bantuan yang memadai kepada siswa yang memerlukan.
  5. Mengadakan pertemuan dengan orang tua murid. Pelayanan bimbingan yang efektif seringkali dimungkinkan oleh pertemuan antara guru dengan orang tua murid. Pertemuan-pertemuan semacam itu membuat guru lebih memahami tentang diri siswa dan latar belakang keluarganya, sehingga ditemukan adanya saling pengertian dan kerjasama yang baik antara kedua belah pihak, sehingga sangat membantu kelancaran bimbingan. Pertemuan dapat dilakukan di sekolah (orang tua murid diundang), dan dapat pula dilakukan dengan kunjungan ke rumah akan mempunyai nilai yang lebih besar.
Peran Guru secara Pribadi
Uzer Usman (1997) menjelaskan bahwa dilihat dari segi dirinya (self oriented), seorang guru harus berperan sebagai:
  1. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya
  2. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
  3. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga, Sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga guru berperan sebagai orang tua dari siswa-siswanya.
  4. Pencari teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa bukan untuk seluruh masyarakat. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku.
  5. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa-siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya.
Baca Juga Postingan : Beberapa Metode Pembelajaran yang Kreatif
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Soal Materi Sekolah Makna Profesional Guru dipandang dari Tiga Dimensi

Makna Profesional Guru dipandang dari Tiga Dimensi :
Dalam konsep barat tentang guru profesional, profesional tidak hanya diartikan sebagai suatu keterampilan teknis yang dimiliki seseorang. Misalnya, seorang guru dikatakan profesional bila guru itu memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal profesional mengandung makna yang lebih luas dari hanya berkualtas tinggi dalam hal teknis. Profesional mempunyai makna ahli (ekspert), tanggungjawab (responsibility), baik tanggungjawab intelektual maupun tanggungjawab moral dan memiliki rasa kesejawatan.

Makna profesional dapat dipandang tiga dimensi, yaitu :
1.Ahli/Ekspert
2.Rasa otonomi dan tanggungjawab
3.Rasa kesejawatan
1. Ahli (ekspert)
Yang pertama ialah ahli dalam bidang pengetahuan yang diajarkan dan ahli dalam tugas mendidik. Seorang guru tidak saja menguasai isi pelajaran yang diajarkan, tetapi juga mampu dalam menanamkan konsep mengenai pengetahuan yang diajarkan.
Pemahaman konsep dapat dikuasai bila guru juga memahami pesikologi belajar. Pesikologi belajar membantu guru menguasai cara membimbing subjek belajar dalam memahami konsep tentang apa yang diajarkan. Selain itu guru juga harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik.
Ada pandangan yang mengatakan bahwa bila orang itu menguasai bidang studi maka dia akan mampu mengajarkan pengetahuan bidang itu kepada subjek didik. Pandangan lain mengatakan orang harus ahli dalam cara mengajar suatu bidang studi walaupun dia tidak ahli dalam bidang studi itu.
Pendapat ketiga beranggapan bahwa di samping harus ahli dalam cara mengajarkan dia juga harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik melalui bidang studi itu. Kalau guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan didik maka ia harus mengetahui prinsip-prinsip ilmu mendidik. Nampaknya banyak guru hanya ahli dalam bidang mengajar tetapi kurang memperhatikan dari segi-segi mendidik. Pemahaman seperti itu akan bermanfaat bagi guru sebagai pendidik.
Guru yang mampu mengajar saja dan hanya melihat pada tujuan-tujuan dan materi pelajaran belaka, mereka ini menerapkan apa yang oleh Paulo Freire disebut dengan Banking Concept. Konsep Bank menurut Paulo Freire ialah cara guru yang memandang bahwa mengajar itu seperti orang yang memasukkan uang kedalam bank. Uang di masukkan di bank dan akan mendapatkan bunga. Guru yang mengajar, murid belajar, guru menerangkan, murid mendengarkan, guru bertanya, murid menjawab. Konsep seperti itu tidak manusiawi (dehumanisasi) menurut Paulo Freire.
Padahal dalam proses belajar terjadi dialog yang ekstensial antara pendidik dan subjek didik sehingga subjek didik menemukan dirinya.
Konsep lain yang terlalu optimis terhadap pengaruh Eksternal seperti yang dikemukakan Skinner dengan apa yang disebut teknologi tingkah laku dalam bukunya Beyond Free Doom And Dignity bahwa manusia dapat direkayasa kita harus ingat bahwa manusia bukanlah sebuah manusia tetapi seorang manusia.
Pengetahuan yang diberikan adalah untuk membentuk pribadi yang utuh (holistik) kalau guru hanya ahli dan terampil saja dalam mentransfer materi pelajaran maka pada suatu saat peranan guru akan digantikan dengan media teknologi yang modern.
Guru bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik. Melalui pengajaran guru membentuk konsep berfikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalan dari inti kemanusiaan subjek didik.
Kiat mengajar seperti itulah yang diartikan ahli dalam memberti pengetahuan, mengembangkan pengetahuan dan menumbuhkan apresiasi, sehingga inti kemanusiaan subjek didik dapat berkembang. Disitulah inti dari seorang guru yang disebut ahli dalam mengajar dan mendidik.
Guru berfungsi pemberi inspirasi. Guru membuat agar peserta didik dapat berbuat. Guru menolong agar subjek didik dapat menolong dirinya sendiri. Guru menumbuhkan prakarsa, motivasi agar subjek didik dapat mengaktialisasi dirinya sendiri. Dalam kiatan itu ungkapan Laurence J. Peter akan mengajar setiap guru untuk menatap kembali fungsinya sebagai pengajar.
Menurut Laurence J.Pater:
Guru biasa :”Mengatakan”
Guru yang baik : “Menerapkan”
Guru yang Superior :”Mendemonstrasikan”.
Guru yang hebat :”Memberi Inspirasi”
Guru dibentuk bukan hanya untuk memiliki seperangkat keterampilan teknis saja, tetapi juga memiliki kiat mendidik serta sikap profesional. Kalau demikian praktek pengalaman calon guru harus lebih lama sekurang-kurangnya satu tahun agar mereka memperoleh peningkatan dan kelengkapan profesional yang mantap dalam dunia mengajar.
2. Memiliki Otonomi dan Rasa Tanggung jawab
Guru yang profesional disamping ahli dalam bidang mengajar dan mendidik, ia juga memiliki otonomi dan tanggungjawab. Yang dimaksud dengan Otonomi adalah suatu sikap yang profesional disebut Mandiri. Ia memiliki otonomi atau kemandirian yang dalam mengemukakan apa yang harus dikatakan berdasarkan keahliannya. Pada awal ia belum mempunyai kebebasan atau otonomi. Ia masih belajar sebagai magang. Melalui proses belajar dan perkembangan profesi maka pada suatu saat ia akan memiliki sikap mandiri.
Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan kesediaan untuk diminta pertanggungjawaban. Tanggungjawab yang mengandung makna multidimensional ini, berarti tanggungjawab terhadap diri sendiri, terhadap siswa, terhadap orang tua, lingkungan sekitar, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan akhirnya terhadap Tuhan yang maha Esa.
Dimensi-dimensi tanggung jawab ini harus dikembangkan melalui seluruh pengalaman belajar disekolah, termasuk semua bidang studi yang diajarkan. tanggung jawab punya aspek individual, sosial, etis dan relegius.
Guru pengajar menpunyai tanggungjawab intelektual. Artinya, ia secara nalar mampu mengembangkan konsep-konsep berfikir nalar dan problematis serta sistematis. Tanggungjawab juga punya aspek individu. Artinya, yang bertanggung jawab adalah orang secara pribadi. Ia berdiri sendiri sebagai pribadi yang utuh untuk mengambil keputusan dan mempertanggung jawabkan keputusan itu. Ia juga harus punya kesadaran untuk dimintai tanggung jawab.
Tanggung jawab juga mengandung makna sosial, orang yang bertanggung jawab harus mampu memberi pertanggungjawaban kepada orang lain. Tanggung jawab mengandung makna etis. Maksud nya tanggungjawab itu sendiri adalah perbuatan yang baik (etis).
Tanggungjawab juga mengandung makna religius. Seseorang bertanggung jawab, ia punya tanggungjawab terhadap Tuhan yang maha esa. Setiap guru wajib melihat tugas dan panggilannya dalam konteks tanggungjawab yang sifatnya multidimensional itu.
Baca juga postingan tentang Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya
3. Memiliki rasa kesejawatan
Salah satu tugas dari organisasi profesi adalah menciptakan rasa kesejawatan sehingga ada rasa aman dan perlindungan jabatan. Etika profesi ini dikembangkan melalui organisasi profesi. Melalui organisasi profesi dicipkan rasa kesejawatan. Semangat korps (l’esprit de corps) dikembangkan agar harkat dan martabat guru yang dijunjung tinggi. Baik oleh korps guru sendiri maupun masyarakat pada umumnya.
Usaha meningkatkan citra guru dimasyarakat diperjuangkan melalui organisasi profesi, disamping ada rasa sejawat diantara para guru itu sendiri. Adalah ironi sejarah bila guru diharuskan memilkul tanggungjawab mendidik begitu berat, tetapi pada pihak lain penghargaan dan perlindungan terhadap jabatan tidak sesuai dengan jabatan yang dilimpahkan kepada mereka. Sebenarnya organisasi jabatan seperti PGRI atau ikatan guru bidang studi sejenis harus memperjuangkan nasibnya agar citra guru lebih dipandang sebagai profesi yang menarik.
Setelah mengetahui baik dari konsep barat maupun Islam kemampuan guru dapat dibagi ke dalam tiga bidang :
1. Kemampuan kognitif : artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar dan pengetahuan tentang cara penilaian hasil belajar siswa.
2. Kemampuan dalam bidang sikap : artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya siap menghargai pekerjaannya, toleransi terhadap sesama dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kekurangannya.
3. Kemampuan prilaku (performance) : artinya kemampuan guru dalam berbagai keterampilan dan berperilaku, yaitu keterampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran dan bergaul atau berkomunikasi dengan siswa.  
A.Kesimpulan
Dari banyaknya bahasan yang kami bahas maka dapat kami simpulkan beberapa point yang menjadi inti dari bahasan kami.
Definisi dari kata profesi ialah suatu bidang pekerjaan yang mana seseorang harus mempunyai suatu keahlian yang mumpuni dibidangnya, atau suatu pekerjaan yang membutuhkan kelanjutan ke jejang yang lebih tinggi dan tidah bisa dilakukan oleh sembarang orang.
Dari kata profesi, kami akan mengembangkan tentang arti dari guru sebagi profesi adalah suatu pekerjaan pekerjaan keguruan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien.
Sedangkan guru yang profesional itu mensyaratkan orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya. Selain itu seorang guru juga harus memiliki kompetensi yang mendukung dengan profesi keguruannya.
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!
Baca juga postingan tentang Tiga Tugas Guru yang Menyangkut Kompetensinya

Sabtu, 08 Maret 2014

Soal Materi Sekolah Rangkuman Materi Kimia Dasar

Salam, Jumpa lagi dengan admin Bimpri PPT, kali ini admin akan berbagi dan mengupload seberkas file yang diperuntukan bagi rekan-rekan Bimpri PPt yang sedang Kuliah dengan Mata kuliah Kimia dasar, berikut Rangkuman Materi Kimia Dasar yang dapat Anda Download di link berikut :
Download Materi Kimia Dasar

Download Rangkuman Kimia dasar
Demikian sahabat Bimpri PPT untuk postingan kali ini, untuk materi mata kuliah Kalkulus diferensial dapat rekan rekan klik di link berikut :
Kalkulus Diferensial
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!

Soal Materi Sekolah Rangkuman Materi Kalkulus diferensial

Salam, Jumpa lagi dengan admin Bimpri PPT, kali ini admin akan berbagi dan mengupload seberkas file yang diperuntukan bagi rekan-rekan Bimpri PPt yang sedang Kuliah dengan Mata kuliah Kalkulus Diferensial, berikut Rangkuman Materi Kalkulus Diferensial yang dapat Anda Download di link berikut :
Kalkulus Deferensial

Download Rangkuman Kalkulus diferensial
Demikian sahabat Bimpri PPT untuk postingan kali ini, untuk materi mata kuliah Kimia dasar dapat rekan rekan klik di link berikut :
Kimia Dasar
Terima Kasih Telah Membaca Postingan Ini, semoga bermanfaat!